Resmikan Pendopo Gastronomi, Dewi Kusumo Siap Sajikan Cerita, Rasa dan Kenangan Tak Terlupakan

18 Januari 2026

Resmikan Pendopo Gastronomi, Dewi Kusumo Siap Sajikan Cerita, Rasa dan Kenangan Tak Terlupakan

matic.malangkab.go.id - Poncokusumo (18/1) Sinar matahari Minggu pagi, 18 Januari 2026 menyelinap di antara celah pohon pinus Wana Wisata Ledok Ombo, menciptakan suasana sejuk nan hangat saat deretan tokoh penting berkumpul di Desa Wisata Poncokusumo. Agenda minggu pagi kali ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan perayaan atas sebuah capaian membanggakan yaitu Peresmian Pendopo Gastronomi Ledok Ombo.

Prosesi potong tumpeng oleh Kadisparbud dan Ketua Pokdarwis Poncokusumo (Foto:Why)


Bangunan pendopo ini bukan sekadar struktur kayu dan atap. Ia adalah simbol kebangkitan. Ketua Pokdarwis Poncokusumo, Purna Irawan, mengisahkan bahwa berdirinya pendopo ini merupakan buah manis dari perjuangan mereka dalam lomba proposal pengembangan pariwisata "Dewiku" yang digelar Bank Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata.


"Alhamdulillah kita menjadi juara untuk wilayah Jawa dan inilah hasilnya, sebuah hibah bangunan yang akan menjadi jantung baru bagi aktivitas wisata Desa Wisata Poncokusumo," ujar Purna.


Kepala Bank Indonesia Malang pun mengamini hal tersebut. Menurutnya, Poncokusumo berhasil membuktikan diri sebagai yang terbaik di Pulau Jawa pada program pengembangan Dewiku tahun 2024 lalu. "Kami wujudkan dalam bentuk hibah pendopo ini agar bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan pariwisata lokal," jelasnya.

Adiluhung Harmony, tagline dan branding pariwisata Kabupaten Malang (Foto:Why


Namun, urusan wisata bukan hanya soal fisik bangunan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang memberikan catatan penting terkait strategi ke depan. Meski angka kunjungan wisatawan di tahun 2025 sukses menembus 5,7 juta orang, ada satu "PR" besar yang harus diselesaikan: lama tinggal (length of stay).

Forest Bathing salah satu atraksi wisata Dewi Kusumo, kegiatan relaksasi dengan kembali ke alam (Foto:Why)


"Kami ingin wisatawan tidak sekadar lewat. Kita perkuat identitas alam dan budayanya. Narasi tentang gastronomi dan sejarah lokal harus digali lebih dalam, agar menjadi kenangan yang membekas kuat di hati pengunjung," tutur Kadisparbud penuh harap.


Keseruan acara memuncak saat irama rancak kesenian Jaranan Dor khas Poncokusumo mulai menghentak, memecah kesunyian hutan pinus. Tak hanya itu, para tamu yang terdiri dari jajaran KPH Malang, akademisi Universitas Merdeka Malang, hingga para agen perjalanan, diajak langsung mencicipi pengalaman Famtrip mengelilingi kawasan Ledok Ombo.

Jaranan Dor, Kesenian jaranan khas Desa Poncokusumo


Prosesi pemotongan tumpeng dan penanaman pohon beringin menjadi penutup yang sarat makna filosofis tentang pertumbuhan dan pengayoman. Dengan hadirnya pendopo ini, Poncokusumo seolah mengirimkan pesan kepada para pelancong: bahwa di sini, mereka tidak hanya akan menemukan pemandangan, tapi juga cerita, rasa dan kenangan yang tak ada duanya. (Why)

Komentar

Belum ada data komentar yang dapat ditampilkan